Begini kronologi OTT kasus suap hakim di Bengkulu

 

Fontana99 – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengamankan enam orang terkait Operasi Tangkap Tangan (OTT) kasus suap penanganan perkara korupsi kegiatan rutin tahun 2013 di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Bengkulu. Operasi penangkapan tersebut dilakukan tepat pada pukul 21.00 di kediaman seorang pensiunan panitera pengganti Dahniar (DHN).

“Pada 6 September 2017, pukul 21.00, tim KPK mengamankan DHN, S, dan DEN di rumah DHN. Ditemukan barang bukti berupa kwitansi bertuliskan panjer pembelian mobil pada tanggal 5 September” kata Ketua KPK Agus Rahardjo di gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (7/9).

“Pukul 00.00, kemarin masuk 7 September, tim KPK mengamankan HKU di rumahnya. Selanjutnya pada pukul 01.00, tim KPK mengamankan DSU di rumahnya,” ungkapnya

Setelah mengamankan Dahniar, KPK lansung mengamankan hakim anggota di Pengadilan Negeri Bengkulu, Dewi Suryana (DSU). Dalam rumah Dewi juga ditemukan barang bukti berupa uang Rp 75 Juta yang dibungkus kertas koran dan juga kantong plastik.

“Dan sekitar pukul 02.46, tim penyelidik datang ke rumah DSU dan mengamankan DSU di rumahnya. Di rumah DSU, mengamankan uang 40 juta yang dibungkus kertas koran di plastik hitam,” tuturnya.

Kemudian pada Kamis (8/9), tepatnya pukul 10.37 WIB, KPK mengamankan pemberi suap Syuhadatul Islamy (SI) di salah satu hotel di Jawa Barat. SI langsung di bawa ke gedung KPK untuk diperiksa lebih lanjut.

“Hari ini jam 10.37 tanggal 7 September, mengamankan SI di Hotel Santika Bogor,” tutup Agus.

Seperti diketahui, KPK mengamankan enam orang terkait kasus suap tersebut. Dari enam orang itu sudah ditetapkan tiga orang tersangka yaitu hakim anggota di Pengadilan Negeri Bengkulu, Dewi Suryana (DSU), Panitera Pengganti Hendra Kurniawan (HKU), dan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Syuhadatul Islamy (SI).

Dewi dan Hendra sebagai penerima suap sedangkan Syuhadatul sebagai pemberi suap untuk meringankan saudaranya Wilson yang tengah terjerat kasus korupsi kegiatan rutin tahun 2013 di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Bengkulu.

Untuk meringankan hukuman, Wilson memberikan suap melalui pertolongan saudaranya Syuhadatul. Diketahui juga untuk menyuap hakim, Wilson bahkan menjual mobilnya dan menyiapkan uang commitment fee sebesar Rp 125 juta.

Atas perbuatannya Dewi dan Hendra disangkakan pasal 12 huruf C dan atau pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 junto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP. Sedangkan Syuhadatul disangkakan pasal 6 ayat 1 huruf A atau B dan atau pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 diubah UU 20 Tahun 2001 junto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

DESKRIPSI GAMBAR DESKRIPSI GAMBAR DESKRIPSI GAMBAR Agen Judi Online

Post Author: shindy vero99