Berat.. berat… biar Dokter saja..
Sponsored Ad

Beberapa waktu lalu, netizen dihebohkan dengan aksi ketua BEM UI, Zaadit Taqwayang tiba-tiba memberikan ‘kartu kuning’ kepada Presiden RI Joko Widodo. Aksi yang dilakukan saat acara Diesnatalis UI ini mendapatkan perhatian dari banyak orang. Terlebih saat itu ia juga menyuarakan beberapa aspirasi, salah satunya kasus gizi buruk di Asmat.

 

Hal ini pun menuai pro kontra dari netizen. Mereka ada yang setuju, namun ada juga yang tidak mendukung. Seperti yang diungkapkan oleh seorang dokter yang bertugas di daerah Asmat, Papua. Ia menulis ‘Surat Cinta’ kepada Zaadit khusus untuk menanggapi aksinya tersebut. Bahkan dalam akhir suratnya, dokter ini sampai mengatakan, “Jangan ke Papua, Kamu Nggak Akan Kuat”.

 

 

Seperti yang kita ketahui bahwa beberapa waktu lalu ketua BEM UI ini dengan berani mengkritik Presiden Joko Widodo saat menghadiri acara Diesnatalis kampus UI. Layaknya wasit, ia juga meniup peluit dengan keras dan memberikan ‘kartu kuning’. Tentu hal ini langsung membuat semua orang heboh. Sampai-sampai sosoknya jadi bulan-bulanan netizen selama beberapa hari

 

Di antara semua aspirasinya, yang paling banyak mendapat sorotan adalah tentang gizi buruk di daerah Asmat, Papua. Ia mengkritik tentang bantuan kesehatan yang kurang di sana. Terlebih  saat ini banyak anak mengalami gizi buruk dan penyakit campak.

 

 

Melihat hal itu, ada seorang dokter di pedalaman Asmat bernama Dr. Yafet Tanri Sirupang yang memberikan tanggapannya. Ia bahkan sampai membuat surat terbuka untuk Zaadit Taqwa melalui akun Facebook pribadinya. Dalam suratnya, ia menceritakan bagaimana keadaan yang ada disana. Mulai dari kondisi alam hingga kesehatan anak-anaknya.

 

Dengan judul ‘(bukan) surat cinta untuk Zaadit Taqwa’, ia menceritakan pengalamannya di Asmat. Surat yang terdiri dari 11 paragraf ini berisi saran dan tanggapan tentang kritikan yang dilakukan Zaadit. Ia juga mengatakan kepada Zaadit untuk melihat langsung keadaan di Asmat dan jangan hanya berkoar-koar saja. Karena sesungguhnya, fakta di lapangan tidak sesederhana laporan media saja.

 

 

 

 

Ia juga menyarankan kepada Zaadit untuk kuliah yang bener dan lulus dengan baik. Sehingga setelah lulus bisa datang ke Asmat untuk membantu secara langsung dan menemukan solusi yang tepat. Dokter ini juga bersedia ngobrol bareng untuk menceritakan keadaan disana. Mengingat dirinya sudah lima tahun berada di daerah ini, sehingga punya banyak pengalaman.

 

Di akhir suratnya, dokter ini juga mengatakan dalam bahasa Papua yang intinya adalah ‘Jangan ke Papua, kamu tidak akan kuat, biar aku saja’. Dan inilah akhir kalimat yang ia tuliskan, “SEKARANG KO TIDUR SUDAH. JANGAN TAHAN-TAHAN MATA EE… DAN JANG KO KE PAPUA…. KENAPA?? ZAADIT DE TANYA. BERAT…. KO TRA AKAN KUAT. BIAR SA SAJA……….”

Surat ini membuat semua orang membuka mata tentang keadaan di Asmat, Papua. Tidak hanya kurangnya bantuan, namun memang karena medannya yang cukup sulit dan menantang. Selain itu, dari kejadian ini kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa sebagai warga negara jangan hanya mengkritik saja. Tapi lebih baik jika langsung terjun ke lapangan dan memberikan bukti yang nyata.